Sabtu, 31 Oktober 2015

RMS



·         RMS (Pepublik Malku Selatan) merupakan gerakan sparatisme yang dibuat untuk mencekal tindakan republican merubas RIS menjadi NKRI, karena dinilai akan mengehentikan pendapatan dari Negara Indonesia masuk ke Belanda.
·         Dipinpin oleh Dr.Christian Robert Steven Soumokil (mantan jaksa agung NIT) yang juga menjadi otak dari pemberontakan Andi Aziz.
·         Pemberontakan RMS termasuk ke dalam pemberontakan yang dibuat Belanda untuk mencekal tindakan republican merubah RIS menjadi NKRI, antara lain APRA, pemberontakan Andi Azis, dan RMS.

Latar Belakang:
1.      tidak puas terhadap proses kembalinya RIS ke Negara Kesatuan Republik Indoneisa (NKRI).
2.      ingin memisahkan diri dari Negara Indonesia Timur
Tujuan
1.      melepaskan wilayah Maluku dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
2.      membentuk Negara sendiri yang terpisah dari wilayah RIS
Pemberontakan RMS
Setelah Soumokil berhasil melarikan diri dari Makasar ke Maluku. Soumokil juga dapat memindahkan pasukan KNIL dan Baret Hijau dari Makasar ke Ambon. Soumokil langsung merencanakan untuk melepaskan Maluku dari Indonesia.
Pada 20 April 1950, diajukan mosi tidak percaya dalam parlemen NIT sehingga cabinet NIT meletakan jabatannya dan akhirnya dibubarkan dan bergabung ke dalam wilayah NKRI.
Namun Soumokil tetap bersikukuh ingin melepaskan Maluku dari NKRI. Bahkan dalam rapat Ambon dengan pemuka KNIL dan Ir.Manusama , Soumokil mengusulkan agar daerah Maluku Selatan dijadikan sebagai daerah merdeka. Dan jika perlu seluruh anggota Dewan Maluku selatan dibunuh, namun usuk tersebut ditolak, karena anggota lain mengusulkan agar yang memproklamasikan kemerdekaan Maluku Selatan adalah kepala Daerah Maluku Selatan bernama J.Manuhutu.
Sebelum diproklamasikannya “RMS” terlebih dahulu telah dilakukan propaganda pemisahan diri dari NKRI yang dilakukan oleh gubernur Sembilan Serangkai yang beranggotakan KNIL dan Partai Timur Besar. Sementara menjelang proklamasi RMS, Soumokil telah berhasil menghimpun kekuatan di lingkungan Maluku Tengah. Sementara itu, orang-orang yang menyatakan dukungannya terhadap NKRI diancam dan dipenjarakan. Akhirnya pada tanggal 25 April 1950 di Ambon diproklamasikan Republik Maluku Selatan (RMS) oleh Mr. Dr. Ch. R.S. Soumokil.
Pemerintah berusaha mengatasi masalah ini secara damai yaitu dengan mengirimkan misi damai yang dipimpin oleh tokoh asli Maluku, yaitu dr. Leimena.
Pemerintah Indonesia pada waktu itu (1950) menghadapi pemberontakan RMS dengan tiga opsi.
1.      Opsi pertama, penyelesaian secara damai dengan pembicaraan-pembicaraan.
Opsi pertama dimulai pada 27 April 1950 dengan mengirim Dr J. Leimena (menteri kesehatan waktu itu), Ir Putuhena, Pellaupessy dan Dr Rehatta.Rombongan berangkat ke Ambon dengan korvet Hang Tuah. Merapat pada 1 Mei 1950, sebuah higginboot mendatangi Hang Tuah dengan Syahbandar Ambon sebagai pengantar surat yang berisi penolakan.
ž  Keesokannya setelah rombongan kembali dari Maluku, untuk yang pertamakalinya RMS mengibarkan bendera kebangsaannya yaitu pada tanggal 2 Mei 1950 pukul 10.00. dua hari setelah dikibarkannya bendera tersebut pemerintah merilis penjelasan tentang arti bendera.
            Warna biru      : laut dan kesetiaan
            Warna putih    : kesucian, perdamaian, dan pantai putih
            Warna hijau    : tumbuh-tumbuhan
            Warna merah : nenek moyang dan darah rakyat.

2.      Opsi kedua bila opsi pertama tidak berhasil, dilakukan blokade laut untuk memaksa mereka  bersediaberunding.
Opsi kedua, blokade laut, dilakukan pada 18 Mei sampai 14 Juli 1950.Semua perairan Maluku diawasi dan kapal-kapal pemberontak dihancurkan. Pada 14 Juli diadakan pendaratan di Pulau Buru dan kemudian di pula-pulau lainseperti Seram, Tanimbar, Kei, dan Aru. Opsi kedua ini pun tidak bisa memaksa Soumokil bersedia berunding.

3.      Bila opsi pertama dan kedua tidak berhasil, akan dilakukan operasi militer,seperti pendaratan dan lain-lain.
Opsi ketiga, operasi militer, dilakukan di bawah kepemimpinan Kolonel Kawilarang, panglima Indonesia Timur saat itu.Operasi militer menumpas pemberontakan RMS yang terkenal dengan Gerakan Operasi Militer IV atau GOM IV.Komandan pasukan (brigade) adalah Letkol Slamet Riyadi. Rencananya: pasukan pertama didaratkan di Hitu, kemudian pasukan kedua di Tulehu, lalu pasukan ketiga di Ambon (RZ Leirissa, 1978).
Operasi itu baru bisa mulai dilakukan September, dan baru Oktober APRI menguasai jazirah Hitu.Akhirnya pada 4 November 1950 benteng Nieuw Victoria dapat direbut APRI.Sisa-sisa angkatan perang RMS lari ke gunung dan banyak yang melarikan diri ke pulau-pulau sekitar pulau Ambon. Pimpinan angkatan perang RMS tertangkap
atau menyerah pada 1952.Soumokil sendiri baru tertangkap pada 1962.
Pada 1951 sekitar 4000 orang maluku selatan,tentara KNIL beserta keluarganya melarikan diri kebelanda yang saat itu diyakini hanya untuk sementara.RMS dibelanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan.
Pemerintahan RI dibawah pimpinan soekarno-hatta mengultimatum semua aktivis RMS yang memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan untuk menyerahkan diri pada pemerintah RI. Sehingga semua aktivis itu ditangkap oleh pasukan pasukan militer yang dikirim dari pulau jawa.
DAMPAK RMS
1.      Dampak Positif
Dengan diterapkan penghargaan kembali dan pengembalian pedoman (orientasi) adat istiadat dan budaya Maluku di tengah masyarakat setempat. Akhirnya masyarakat Maluku menyadari pentingnya dan kokohnya adat istiadat dan kebudayaan Maluku.
2.      Dampak Negatif
·         Akibat adanya pemberontakan dari pihak Maluku Selatan mengakibatkan adanya kerusakan fasilitas negara/ masyarakat dan menimbulkan banyak korban.
·         Selain itu, membuat masyarakat bingung akan status kewarganegaraannya.
·         Hilangnya kesatuan dan persatuan NKRI.
·         Merusakkan stabilitas keamanan dan kenyamanan di wilayah NKRI.







1 komentar: