·
RMS
(Pepublik Malku Selatan) merupakan gerakan sparatisme yang dibuat untuk
mencekal tindakan republican merubas RIS menjadi NKRI, karena dinilai akan
mengehentikan pendapatan dari Negara Indonesia masuk ke Belanda.
·
Dipinpin
oleh Dr.Christian Robert Steven Soumokil (mantan jaksa agung NIT) yang juga
menjadi otak dari pemberontakan Andi Aziz.
·
Pemberontakan
RMS termasuk ke dalam pemberontakan yang dibuat Belanda untuk mencekal tindakan
republican merubah RIS menjadi NKRI, antara lain APRA, pemberontakan Andi Azis,
dan RMS.
Latar
Belakang:
1.
tidak puas
terhadap proses kembalinya RIS ke Negara Kesatuan Republik Indoneisa (NKRI).
2.
ingin memisahkan
diri dari Negara Indonesia Timur
Tujuan
1.
melepaskan
wilayah Maluku dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
2.
membentuk
Negara sendiri yang terpisah dari wilayah RIS
Pemberontakan
RMS
Setelah
Soumokil berhasil melarikan diri dari Makasar ke Maluku. Soumokil juga dapat
memindahkan pasukan KNIL dan Baret Hijau
dari Makasar ke Ambon. Soumokil langsung merencanakan untuk melepaskan Maluku
dari Indonesia.
Pada
20 April 1950, diajukan mosi tidak
percaya dalam parlemen NIT sehingga cabinet NIT meletakan jabatannya dan
akhirnya dibubarkan dan bergabung ke dalam wilayah NKRI.
Namun
Soumokil tetap bersikukuh ingin melepaskan Maluku dari NKRI. Bahkan dalam rapat
Ambon dengan pemuka KNIL dan Ir.Manusama , Soumokil mengusulkan agar daerah
Maluku Selatan dijadikan sebagai daerah merdeka. Dan jika perlu seluruh anggota
Dewan Maluku selatan dibunuh, namun usuk tersebut ditolak, karena anggota lain
mengusulkan agar yang memproklamasikan kemerdekaan Maluku Selatan adalah kepala
Daerah Maluku Selatan bernama J.Manuhutu.
Sebelum diproklamasikannya
“RMS” terlebih dahulu telah dilakukan propaganda pemisahan diri dari NKRI yang
dilakukan oleh gubernur Sembilan Serangkai yang beranggotakan KNIL dan Partai
Timur Besar. Sementara menjelang proklamasi RMS, Soumokil telah berhasil
menghimpun kekuatan di lingkungan Maluku Tengah. Sementara itu, orang-orang
yang menyatakan dukungannya terhadap NKRI diancam dan dipenjarakan. Akhirnya
pada tanggal 25 April 1950 di Ambon diproklamasikan Republik Maluku Selatan
(RMS) oleh Mr. Dr. Ch. R.S. Soumokil.
Pemerintah berusaha mengatasi masalah ini secara damai
yaitu dengan mengirimkan misi damai yang dipimpin oleh tokoh asli Maluku, yaitu
dr. Leimena.
Pemerintah Indonesia
pada waktu itu (1950) menghadapi pemberontakan RMS dengan tiga opsi.
1.
Opsi
pertama, penyelesaian secara damai dengan pembicaraan-pembicaraan.
Opsi pertama
dimulai pada 27 April 1950 dengan mengirim Dr J. Leimena (menteri kesehatan
waktu itu), Ir Putuhena, Pellaupessy dan Dr Rehatta.Rombongan berangkat ke
Ambon dengan korvet Hang Tuah. Merapat pada 1 Mei 1950, sebuah higginboot
mendatangi Hang Tuah dengan Syahbandar Ambon sebagai pengantar surat yang
berisi penolakan.
Keesokannya
setelah rombongan kembali dari Maluku, untuk yang pertamakalinya RMS
mengibarkan bendera kebangsaannya yaitu pada tanggal 2 Mei 1950 pukul 10.00.
dua hari setelah dikibarkannya bendera tersebut pemerintah merilis penjelasan
tentang arti bendera.
Warna biru : laut dan
kesetiaan
Warna putih : kesucian,
perdamaian, dan pantai putih
Warna hijau : tumbuh-tumbuhan
Warna merah : nenek
moyang dan darah rakyat.
2.
Opsi
kedua bila opsi pertama tidak berhasil, dilakukan blokade laut untuk memaksa
mereka bersediaberunding.
Opsi kedua, blokade
laut, dilakukan pada 18 Mei sampai 14 Juli 1950.Semua perairan Maluku diawasi
dan kapal-kapal pemberontak dihancurkan. Pada 14 Juli diadakan pendaratan di
Pulau Buru dan kemudian di pula-pulau lainseperti Seram, Tanimbar, Kei, dan
Aru. Opsi kedua ini pun tidak bisa memaksa Soumokil bersedia berunding.
3.
Bila
opsi pertama dan kedua tidak berhasil, akan dilakukan operasi militer,seperti
pendaratan dan lain-lain.
Opsi ketiga, operasi
militer, dilakukan di bawah kepemimpinan Kolonel Kawilarang, panglima Indonesia
Timur saat itu.Operasi militer menumpas pemberontakan RMS yang terkenal dengan
Gerakan Operasi Militer IV atau GOM IV.Komandan pasukan (brigade) adalah Letkol
Slamet Riyadi. Rencananya: pasukan pertama didaratkan di Hitu, kemudian pasukan
kedua di Tulehu, lalu pasukan ketiga di Ambon (RZ Leirissa, 1978).
Operasi itu baru bisa
mulai dilakukan September, dan baru Oktober APRI menguasai jazirah
Hitu.Akhirnya pada 4 November 1950 benteng Nieuw Victoria dapat direbut
APRI.Sisa-sisa angkatan perang RMS lari ke gunung dan banyak yang melarikan
diri ke pulau-pulau sekitar pulau Ambon. Pimpinan angkatan perang RMS
tertangkap
atau menyerah pada 1952.Soumokil sendiri baru tertangkap pada 1962.
atau menyerah pada 1952.Soumokil sendiri baru tertangkap pada 1962.
Pada
1951 sekitar 4000 orang maluku selatan,tentara KNIL beserta keluarganya
melarikan diri kebelanda yang saat itu diyakini hanya untuk sementara.RMS
dibelanda lalu menjadi pemerintahan di pengasingan.
Pemerintahan
RI dibawah pimpinan soekarno-hatta mengultimatum semua aktivis RMS yang
memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan untuk menyerahkan diri pada
pemerintah RI. Sehingga semua aktivis itu ditangkap oleh pasukan pasukan militer yang
dikirim dari pulau jawa.
DAMPAK RMS
1. Dampak Positif
Dengan diterapkan penghargaan kembali dan pengembalian pedoman (orientasi)
adat istiadat dan budaya Maluku di tengah masyarakat setempat. Akhirnya
masyarakat Maluku menyadari pentingnya dan kokohnya adat istiadat dan
kebudayaan Maluku.
2. Dampak Negatif
·
Akibat
adanya pemberontakan dari pihak Maluku Selatan mengakibatkan adanya kerusakan
fasilitas negara/ masyarakat dan menimbulkan banyak korban.
·
Selain
itu, membuat masyarakat bingung akan status kewarganegaraannya.
·
Hilangnya
kesatuan dan persatuan NKRI.
·
Merusakkan
stabilitas keamanan dan kenyamanan di wilayah NKRI.